Senin, 21 Oktober 2013

Pengantar Knowledge Management

Pengantar KNOWLEDGE MANAGEMENT 


Manajemen pengetahuan (Hendrik, 2003) terdiri dari kata manajemen dan pengetahuan.untuk manajemen dapat diartikan sebagai suatu cara untuk merencanakan, mengumpulkan danmengorganisi, memimpin dan mengendalikan sumber daya untuk suatu tujuan, sedangkanpengetahuan adalah data dan informasi yang digabung dengan kemampuan, intuisi, pengalaman,gagasan, motivasi dari sumber yang kompeten. Sumber pengetahuan bisa berupa banyak bentuk, seperti koran, majalah, email dan lain-lain. Jadi untuk pengertian manajemen pengetahuan adalah merencanakan, mengumpulkan dan mengorganisir, memimpin dan mengendalikan data dan informasi yang telah digabung dengan berbagai bentuk pemikiran dan analisa dari macam-macam sumber yang kompeten Dalam hal ini, manajemen pengetahuan merupakan proses sistematik untuk menemukan,  memilih, mengorganisasikan, menyarikan dan menyajikan informasi dengan cara tertentu, sehingga para pekerja mampu memanfaatkan dan meningkatkan penguasaan pengetahuan dalam suatu bidang kajian yang spesifik, untuk kemudian menginstitusionalkannya menjadi pengetahuan perusahaan.
Sesuai dengan definisi knowledge management, yaitu sebuah seni dalam menghasilkanvalue dari asset tidak berwujud (intangible assets) yang dimiliki perusahaan, maka Karl Erik Sveiby (1996) mengelompokkan intangible asset sebagai berikut: 

1.      External structure, yaitu asset yang berasal dari luar perusahaan (customer, supplier). Aset ini dapat dibangun dengan cara menggali knowledge dari customer (gain knowledge from customer) dan menawarkan pelayanan (knowledge) ekstra kepada customer (offer customers additional knowledge). Misalnya menciptakan hotline (bebas pulsa) untuk menampung keluhan atau customer complaints dengan bantuan database system untuk kemudian dicarikan solusinya.
2.      Internal structure, yaitu asset yang berasal dari dalam perusahaan seperti patent, merk, sistem, dan strong culture. Aset ini dapat dibangun dengan cara menciptakan budaya yang menekankan pada peningkatan pengetahuan (build knowledge sharing culture), memanfaatkan knowledge yang ada untuk menghasilkan pendapatan, (create new revenues from existing knowledge), menyimpan, memanfaatkan, dan menyebarluaskan kembali knowledge yang berbentuk -‘best practice’ database- dari pengalaman masa lalu (capture individual’s tacit knowledge, store it, spread it and re-use it), mengukur kinerja intangible asset (measures knowledge creating processes and intangible assets). Misalnya menciptakan teamwork atau unit kerja khusus yang bertanggung jawab terhadap sharing knowledge dalam perusahaan, menjual knowledge/best practice kepada perusahaan lain, menerbitkan laporan tahunan perusahaan yang memuat intangible assets (invisible balance sheet).
3.      Competence of people, yaitu asset yang berasal dari knowledge yang dimiliki SDM baik yang menyangkut potensi kemampuan (tacit), kemampuan implementasi (explisit), kemampuan saling mendistribusi pengetahuan (sharing), dan kemauan belajar untuk meningkatkan pengetahuannya (learning). Hal ini bisa diperoleh dengan cara membuat sistem SDM berdasarkan knowledge management (create careers based on knowledge management), menciptakan iklim kerja yang mendorong adanya transfer knowledgekepada pegawai yang berpotensi (create micro environments for tacit knowledge transfer), dan mendukung program pendidikan dengan teknologi komunikasi (support education with communication technology), dan belajar dari berbagai uji coba dan simulasi program/kebijaksanaan perusahaan (learn from simulations and pilot installations). Misalnya menciptakan sistem penggajian yang memberikan reward material dan atau jabatan kepada pegawai yang berhasil dalam melakukan sharing knowledge dan menerbitkan majalah/bisnis jurnal untuk mendorong proses learning dari pegawai yang berpotensi dengan cara menulis baik sendiri maupun secara teamwork.

      Dari Penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa untuk mewujudkan organisasi yang mampu tumbuh dan berkembang, dibutuhkan modal, yaitu segala bentuk kekayaan yang dapat digunakan untuk menghasilkan kekayaaan (market value) yang lebih besar.


Siklus Knowledge Management

Knowledge Management Lifecycle 

Proses knowledge management system merupakan IT-based system yang dibangun untuk mendukung dan mengembangkan knowledge yang ada di organisasi. Knowledge management lifecycle dapat diterapkan pada konteks teknologi informasi dari sistem knowledge management. Berdasarkan model siklus knowledge management lifecycle terdapat empat tahapan yaitu creation, storage atau retrieval, transfer dan application.


Proses creation adalah proses identifikasi knowledge yang ada di perusahaan, serta usaha memunculkan knowledge baru dari proses pembelajaran. Model ini menyadari bahwa knowledge creation di organisasi melibatkan interkasi yang berkelanjutan diantara tacit dan explicit knowledge serta bergerak secara spiral ketika knowledge berpindah melalui individu, kelompok dan organisasi. Nonaka dan Takeuchi telah mengidentifikasikan empat model dari knowledge creation yaitu socialization, externalization, combination dan internalization. Model ini dikenal sebagai model SECI.
Proses creation diikuti oleh proses storage atau retrieval, yaitu kegiatan penyimpanan knowledge ke dalam bentuk yang dapat dengan mudah diakses dan diambil lagi pada lain waktu. Proses berikutnya adalah pengambilan dan transfer knowledge yang telah tersimpan dalam basis knowledge, baik itu antara individu, kelompok, organisasi, ataupun dari dokumen yang tersimpan. Proses application merupakan proses pengaplikasian dari knowledge hingga knowledge bisa digunakan. Menurut Alavi dan Leidner aspek penting dari teori berbasis knowledge dari suatu organisasi adalah bahwa sumber dari keunggulan kompetitif berada dalam knowledge application dan bukan dalam pengetahuan itu sendiri. Dalam hal ini peran teknologi dapat mendukung knowledge application dengan melekatkan pengetahuan ke dalam rutinitas organisasi.
Berdasarkan model siklus dari Alavi dan Leidner dapat disimpulkan bahwa knowledge management lifecycle dapat diterapkan pada konteks teknologi informasi dari sistem knowledge management.

sumber referensi : http://digilib.ittelkom.ac.id/


Selasa, 15 Januari 2013

6 Domain utama dalam keamanan sistem informasi


6 DOMAIN UTAMA DALAM KEAMANAN SYSTEM INFORMASI

Didalam dunia keamanan sistem informasi akan banyak sekali ditemukan
bermacam istilah dan definisi. Namun dari banyaknya istilah dan definisi tersebut
ada yang merupakan definisi atau istilah yang baku dan disepakati oleh banyak
praktisi keamanan sistem. Tapi ada pula beberapa istilah dan definisi yang belum
disepakati, sehingga menimbulkan pengertian dan pemahaman yang berbeda.
Secara umum dapat disimpulkan secara global bahwa dalam dunia keamanan
sistem informasi paling tidak memiliki 6 ( enam ) domain utama yang masingmasing domain memiliki karakteristik dan definisi sendiri didalamnya.

6 (enam) domain utama tersebut adalah sebagai berikut :
1. Human ( orang )
2. Threats ( Ancaman )
3. Attack ( Serangan )
4. Method ( Metode )
5. Tools ( Alat bantu )
6. Risk ( Resiko )

Pentingnya Keamanan Informasi dalam kaitannya dengan Teknologi


Pentingnya pengendalian Sistem Informasi (dalam teknologi)

Dalam dunia yang serba modern di zaman sekarang ini membuat mau tidak mau harus mengikuti perkembangan Tekhnologi sekarang ini , jika kita tidak mengikuti perkembangan sekarang ini banyak orang bilang 'Apakah anda Gaptek?'. Tetapi di negara kita ini belum bisa membuat teknologi - teknologi mukhtahir yang sudah berkembang di negara - negara maju seperti Amerika Serikat(Apple) , Kanada(Pembuat SmartPhone BlackBerry) , dll . Sekarang kita hanya bisa sebagai konsumen dan pembeli saja , kita belum bisa berbuat banyak dalam pembuatan - pembuatan teknologi mukhtahir yang sudah berkembang saat ini . Dengan adanya bebagai teknologi yang berkembang saat ini maka tidak lepas dari tindak kejahatan yang menggunakan teknologi(cyber crime) , oleh karena itu dalam artikel kali ini saya akan menjelaskan pentingnya pengendalian sistem informasi .

Untuk berfungsi secara efektif dan efisien, sebuah business harus mempunyai sistem informasi manajemen yang valid, akurat, lengkap, tepat waktu dan tepat guna. Dengan demikian manajemen, aktor yang menjadi pemegang peranan penting dari keberhasilan sesuatu perusahaan, dapat mengambil keputusan yang optimal berdasarkan informasi yang dapat diandalkan. Sesuai dengan laju perkembangan teknologi informasi, sistem informasi manajemen masa kini pada umumnya telah didukung oleh komputer di dalam suatu kegiatan usaha adalah sangat tergantung pada situasi dan kondisi dari masing-masing perusahaan. Ada perusahaan yang tidak bisa berfungsi sama sekali kalau komputernya macet, karena memekai sistem informasi manajemen yang sangat bergantung pada komputer (computer dominant firm); dan ada pula perusahaan yang tetap bisa beroperasi seperti biasa, meskipun komputernya musnah terkena bencana, sebab sistem informasi manajemennya memang kurang bergantung pada peran komputer (computer minor firm).

Tugas pengendalian dalam Sistem Informasi yang terdiri dari :
>Kontrol proses pengembangan
Model Sistem Informasi Sumber Daya Informasi
Sistem yang menyediakan informasi mengenai sumber daya informasi perusahaan kepada para pemakai diseluruh perusahaan.
Subsistem Input :
1. Sistem Informasi Akuntansi ; mengumpulkan data internal yang menjelaskan unit jasa informasi dan data lingkungan yang menjelaskan transaksi unit tersebut dengan para pemasoknya.
2. Subsistem Riset Sumber Daya Informasi ; menjelaskan kegiatan yang terdiri dari proyek-proyek riset didalam perusahaan yang selanjutnya menentukan kebutuhan user dan kepuasan user.
3. Subsistem Intelijen Sumber Daya Informasi ; menjelaskan fungsi yang berhubungan dengan pengumpulan informasi dan elemen-elemen di lingkungan perusahaan khususnya elemen-elemen yang berinteraksi dengan jasa informasi.
Elemen-elemen ini meliputi :
- Pemerintah.
- Pemasok.
- Serikat Pekerja.
- Masyarakat Global.
- Pelanggan.
- Pesaing.
- Masyarakat Keuangan.
- Pemegang Saham.

Subsistem Output :
1. Subsistem Perangkat Keras ; menyiapkan output informasi yang menjelaskan sumber daya perangkat keras. Perangkat Lunak yang digunakan dalam subsistem ini dapat berupa query language, pembuatan laporan dan model matematika.
2. Subsistem Perangkat Lunak ; menyiapkan output informasi yang menjelaskan sumber daya perangkat lunak. Output informasi terutama berbentuk jawaban atas database query dan laporan periodik.
3. Subsistem Sumber Daya Manusia ; menyediakan informasi tentang para spesialis informasi perusahaan.
4. Subsistem Data dan Informasi ; menyiapkan output yang menjelaskan sumber daya data dan informasi yang berada di database pusat.
5. Subsistem Sumber Daya Terintegrasi ; menyatukan informasi yang menjelaskan sumber daya hardware, software, SDM serta data dan informasi.
Mencapai Kualitas Manajemen Jasa Informasi
Konsep TQM (Total Quality Management) sering diasosiasikan dengen proses manufaktur. Namun dasar yang sama dapat diterapkan pada produk dan jasa apapun termasuk yang ditawarkan oleh IS.

A . Permulaan Transaksi (Transaction Origination)

Perekaman satu elemen data/lebih pada dokumen sumber
1. Permulaan Dokumentasi Sumber
Perancangan dokumentasi
Pemerolehan dokumentasi
Kepastian keamanan dokumen
2. Kewenangan
Bagaimana entry data akan dibuat menjadi dokumen dan oleh siapa
3. Pembuatan Input Komputer
Mengidentifikasi record input yang salah dan memastikan semua data input
diproses
4. Penanganan Kesalahan
Mengoreksi kesalahan yang telah dideteksi dan menggabungkan record yg
telah dikoreksi ke record entry
5. Penyimpanan Dokumen Sumber
Menentukan bagaimana dokumen akan disimpan dan dalam kondisi
bagaimana dapat dikeluarkan.

B . Entri Transaksi
Entri Transaksi mengubah data dokumen sumber menjadi bentuk yang dapat
dibaca oleh komputer.
1. Entri Data
Kontrol dalam bentuk prosedur tertulis dan dalam bentuk peralatan
inputnya sendiri. Dapat dilakukan dengan proses offline/online
2. Verifikasi Data
a. Key Verification (Verifikasi Pemasukan)
Data dimasukkan ke sistem sebanyak 2 kali
b. Sight Verification (Verifikasi Penglihatan)
Melihat pada layar sebelum memasukkan data ke system
3. Penanganan Kesalahan
Merotasi record yang telah dideteksi ke permulaan transaksi untuk
pengoreksian
4. Penyeimbangan Batch.
Mengakumulasikan total setiap batch untuk dibandingkan dengan total yang
sama yang dibuat selama permulaan transaksi.

C . Komunikasi Data
Tanggungjawab manajer jaringan dengan menggabungkan ukuran keamanan ke dalam
sistem dan memonitor penampilan untuk memastikan keamanan telah dilakukan dgn
baik
1. Kontrol Pengiriman Data
2. Kontrol Channel Komunikasi
3. Kontrol Penerimaan Pesan
4. Rencana Pengamanan Datacom Secara Keseluruhan

D . Pemrosesan Komputer
Dikaitkan dengan input data ke komputer dan dibanguun dalam program dan database
1. Penanganan Data
2. Penanganan Kesalahan
3. Database dan Perpustakaan Software
# Password # Direktori Pemakai
# Direktori Field # Enkripsi

E . Output Komputer
Komponen subsistem ini bertanggung jawab untuk mengirimkan produk jadi kepada
pemakai
1. Distribusi
Kontrol pada distribusi laporan berusaha untuk memastikan ketepatan orang yang
menerima output.
2. Penyeimbangan Departemen Pemakai
Bila departemen pemakai menerima output dari komputer, maka keseluruhan
kontrol dari output dibandingkan dengan total yang sama yang telah ditetapkan
pada waktu pertama kali data input dibuat.
3. Penanganan Kesalahan
Kelompok kontrol tertentu dapat ditetapkan didalam area pemakai dengan
menjalankan prosedur formal untuk mengoreksi kesalahan.
4. Penyimpangan Record
Tujuan komponen kontrol yang terakhir ini adalah untuk memelihara keamanan
yang tepat terhadap output komputer dan untuk mengontrol penyelesaian yang siasia.
5. Penyeimbangan Operasi Komputer
Kontrol ini memungkinkan pelayanan informasi untuk memverifikasi bahwa semua
batch dan transaksi yang diterima dari departemen pemakai telah diproses.

>Kontrol pengoperasian sistem
Kontrol pengoperasian sistem dimaksudkan untuk mencapai efisiensi dan keamanan . Kontrol pengoperasian system didasarkan pada struktur organisasional dari departemen operasi, aktivitas dari unit yang ada dalam departemen tersebut.

Kontrol yang memberikan kontribusi terhadap tujuan ini dapat diklasifikasikan
menjadi 5 area :
1. Struktur organisasional
Staf pelayanan informasi diorganisir menurut bidang spesialisasi. Analisis,
Programmer, dan Personel operasi biasanya dipisahkan dan hanya mengembangkan ketrampilan yang diperlukan untuk area pekerjaannya sendiri.
2. Kontrol perpustakaan
Perpustakaan komputer adalah sama dengan perpustakaan buku, dimana didalamnya ada pustakawan, pengumpulan media, area tempat penyimpanan media dan prosedur untuk menggunakan media tersebut. Yang boleh mengakses perpustakaan media hanyalah pustakawannya.
3. Pemeliharaan Peralatan
Orang yang tugasnya memperbaiki computer yang disebut Customer Engineer (CE) / Field Engineer (FE) / Teknisi Lapangan menjalankan pemeliharaan yang terjadwal / yang tak terjadwal.
4. Kontrol lingkungan dan keamanan fasilitas
Untuk menjaga investasi dibutuhkan kondisi lingkungan yang khusus seperti ruang computer harus bersih keamanan fasilitas yang harus dilakukan dengan
penguncian ruang peralatan dan komputer.
5. Perencanaan disaster
a. Rencana Keadaan darurat
Prioritas utamanya adalah keselamatan tenaga kerja perusahaan b. Rencana Backup
Menjelaskan bagaimana perusahaan dapat melanjutkan operasinya dari ketika
terjadi bencana sampai ia kembali beroperasi secara normal.
c. Rencana Record Penting
Rencana ini mengidentifikasi file data penting & menentukan tempat penyimpanan
kopi duplikat.
d. Rencana Recovery
Rencana ini mengidentifikasi sumber-sumber peralatan pengganti, fasilitas
komunikasi da pasokan-pasokan.

Sabtu, 15 Desember 2012

Pemanfaatan ICT pada industri pendidikan


Apa itu ICT?
Information and Communication Technology (ICT) atau di Indonesia biasa juga dikenal dengan istilah Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), merupakan sebuah teknologi yang meliputi perangkat elektronik, komputer dan telekomunikasi, yang di dalamnya tercakup perangkat lunak, yang dapat digunakan untuk membuat, menyimpan, mengirimkan, menerjemahkan, dan memanipulasi informasi dalam berbagai bentuk. Teknologi komunikasi di sini misalnya: Radio, Telekomunikasi, Intranet, Internet, dan sebagainya.

Perkembangan infrastruktur ICT di Indonesia juga turut berkembang, mulai dari upaya pengembangan Palapa Ring, jaringan INHERENT, dan Jardikas. Palapa Ring sendiri merupakan sebuah upaya pemerintah untuk membangun jaringan serat optik nasional yang akan menjangkau sebanyak 33 provinsi, 440 kota/kabupaten di seluruh Indonesia. Adapun Jardiknas sendiri merupakan infrastruktur ICT berupa jaringan komputer yang berskala nasional, yang digunakan untuk interkoneksi antar sekolah (Zona Sekolah) di setiap Kota/Kabupaten se-Indonesia yang dikembangkan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan (PSMK) Mandikdasmen Depdiknas. Di tingkat perguruan tinggi, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti Depdiknas) juga turut mengembangkan infrastruktur jaringan skala nasional khusus antar perguruan tinggi yang disebut INHERENT (Indonesia Higher Education Network).

ICT di Dunia Pendidikan
Seiring dengan berkembangnya ICT, pemanfaatannya juga semakin meluas ke berbagai bidang, mulai dari sekedar untuk hiburan, pemerintahan, dan berbagai bidang lainnya. Salah satu manfaat yang paling dirasakan adalah pada bidang pendidikan, adanya akses luas bagi pada penggunanya untuk mendapatkan informasi apapun yang dibutuhkan. Ketersediaan ICT pada lembaga pendidikan saat ini, bukan hanya sebagai penunjang, melainkan menjadi sebuah kebutuhan dan kewajiban.
Pemanfaatan ICT di dunia pendidikan adalah melalui berbagai jenis aplikasi, antara lain: E-learning, Online Courses, Electronic Library, Computer Aided Instruction (CAI) dan berbagai jenis aplikasi lainnya. Pengguna akan dapat memanfaatkan berbagai fitur yang bisa digunakan untuk berkomunikasi, serta mengakses materi-materi pendukung melalui sistem E-learning.
Di Indonesia sudah ada badan yang mengurus perkembangan teknologi informasi, yaitu Tim Koordinasi Telematika Indonesia (TKTI). Salah satu target mereka adalah pelaksanaan pemerintahan online atau e-government. Dengan e-government, pemerintah dapat menjalankan fungsinya melalui media internet. Tujuannya adalah memberi pelayanan kepada publik secara transparan dengan akses yang lebih mudah.
Pendidikan tidak dapat terlepas dari ICT, karena proses pembelajaran dalam pendidikan akan lebih cepat dan efektif ketika dapat memanfaatkan ICT. Selain perubahan paradigma guru, dosen dan praktisi pendidikan dalam menggunakan ICT untuk proses pembelajar tentu sangat berharap adanya kebijakan yang mendukung dalam bidang ICT dari pemerintah.
Kebijakan kementrian pendidikan dan kebudayaan, kementrian kominfo, dan lembaga-lembaga lainnya untuk mensukseskan percepatan dan maksimalisasi pemanfaatan ICT dalam pendidikan sangat ditunggu-tunggu oleh dunia pendidikan, karena kebijakan tersebut akan menjadi salah satu kunci suksesnya penerapan ICT dalam pendidikan di Indonesia.

Contoh penerapan ICT dalam dunia pendidikan
Keuntungan Teknologi Dalam Bidang Pendidikan : 
1.Informasi yang dibutuhkan akan semakin cepat dan mudah di akses untuk kepentingan pendidikan (biasanya informasi itu didapatkan dari internet).
2.Inovasi dalam pembelajaran semakin berkembang dengan adanya inovasi e-learning yang semakin memudahkan proses pendidikan.
3.Kemajuan TIK juga akan memungkinkan berkembangnya kelas virtual atau kelas yang berbasis teleconference yang tidak mengharuskan sang pendidik dan peserta didik berada dalam satu ruangan.
4.Sistem administrasi pada sebuah lembaga pendidikan akan semakin mudah dan lancar karena penerapan sistem TIK yang baik.

Kerugian Teknologi Dalam Bidang Pendidikan : 
1.Kemajuan TIK juga akan semakin mempermudah terjadinya pelanggaran terhadap Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) karena semakin mudahnya mengakses data menyebabkan orang yang bersifat plagiatis akan melakukan kecurangan melalui media yang ada.

2.Walaupun sistem administrasi suatu lembaga pendidikan bagaikan sebuah system tanpa celah atau sempurna, akan tetapi jika terjadi suatu kecerobohan dalam menjalankan sistem tersebut akan berakibat fatal. 

3.Salah satu dampak negatif televisi adalah melatih anak untuk berpikir pendek dan bertahan berkonsentrasi dalam waktu yang singkat (short span of attention).


Alat pendidikan ICT dapat dibagi menjadi 3 kategori, Sumber daya input, Sumber Daya Output dan lainnya
Lihat Grafik Berikut ini



Penelitian di dunia telah menunjukkan bahwa ICT dapat memimpin dalam perbaikan metode belajar para pelajar serta menghasilkan metode pengajaran yang lebih baik.Sebuah laporan yang di tulis oleh National Institute of Multimedia Education di Jepang, membuktikan bahwa peningkatan daya serap para pelajar dengan menggunakan teknologi ICT melalui integrasi kurikulum secara signifikan menghasilkan dampak yang positif, terutama dalam bidang pengetahuan, Pemahaman, Ketrampilan Praktis, Ketrampilan presentasi dalam berbagai subyek pendidikan seperti matematika, ilmu pengetahuan, dan pelajaran sosial .
Akan tetapi, anda dapat melihat bahwa banyak solusi teknologi pendidikan yang tersedia di dunia dapat mengakibatkan kebingungan di antara para pengajar mengenai bagaimana untuk memilih solusi teknologi ICT yang tepat. Mari kita melihat kelebihan-kelebihan dan kekurangan-kekurangan dari alat-alat ICT untuk dunia pendidikan dan menemukan solusi pendidikan ICT yang cocok untuk kebutuhan-kebutuhan sekolah anda.

3 KELEBIHAN UTAMA DARI ALAT ALAT ICT UNTUK PENDIDIKAN
http://www.elmoglobal.com/id/images/home/box2/03.gif
1
Melalui ICT, gambar-gambar dapat lebih mudah digunakan dalam proses mengajar dan memperbaiki daya ingat dari para murid.
2
Melalui ICT, para pengajar dapat dengan mudah menjelaskan instruksi-instruksi yang rumit dan memastikan pemahaman dari para murid.
3
Melalui ICT, para pengajar dapat membuat kelas interaktif dan membuat proses belajar mengajar menjadi lebih menyenangkan, yang dapat memperbaiki tingkat kehadiran dan juga konsentrasi dari para siswa

http://www.elmoglobal.com/id/images/home/box2/08.gif

3 KEKURANGAN UTAMA DARI ICT UNTUK PENDIDIKAN


http://www.elmoglobal.com/id/images/home/box2/03.gif
1
Permasalahan dalam pengaturan dan pengoperasian dari alat tersebut
2
Terlalu mahal untuk dimiliki
3
Kesulitan untuk para pengajar dengan pengalaman yang sangat minim dalam penggunaan alat ICT

Sumber dan referensi :
http://www.ubaya.ac.id/ubaya/news_detail/513/Teknologi%20Informasi%20dan%20Komunikasi%20pada%20Dunia%20Pendidikan.html

http://blog.politekniktelkom.ac.id/30212033/2012/06/13/menelah-manfaat-tik-dalam-berbagai-bidang/

http://onlinebusiness.sitekno.com/article/62755/keuntungan-dan-kerugian-teknologi.html

Senin, 10 Desember 2012

Model Keamanan Manajemen


SECURITY MANAGEMENT MODELS
  1. Blueprints, Frameworks, and Security Models
Framework merupakan garis besar dari blueprint yang lebih menyeluruh, yang mana menetapkan model yang harus diikuti dalam menciptakan desain, seleksi, implementasi awal dan berkelanjutan dari semua kontrol keamanan berikutnya termasuk information security policies, security education, dan training programs, serta technological controls.
Security model merupakan blueprint generic yang ditawarkan oleh service organization. Cara lain untuk menciptakan blueprint adalah dengan melihat jalur yang diambil oleh organisasi (benchmarking-mengikuti praktek rekomendasi atau standar industri)
  1. Access Control Models
  • Access control mengatur user memasuki trusted area organisasi logical access ke information systems dan physical access ke organization’s facilities.
  • Aplikasi umum dari access control terdiri dari 4 proses:
      1. Identification
      2. Authentication
      3. Authorization
      4. Accountability
  • Access control memungkinkan organisasi untuk membatasi akses terhadap informasi, informasi asset, dan asset tak berwujud lainnya to those with a bona fide business need.
  • Access control terdiri dari beberapa prinsip:
      1. Least privilege:
      2. Keperluan untuk mengetahui
      3. Pembagian tugas
  • Pendekatan pertama yang digunakan untuk mengkategorikan metodologi akses kontrol.
Preventive: kontrol yang membantu organisasi menghindari insiden
Deterrent: kontrol yang menghambat atau menghalangi insiden yang baru mulai
Detective: kontrol yang mendeteksi atau mengidentifikasi insiden ketika kejadian terjadi
Corrective: kontrol yang mengurangi kerusakan yang dilakukan pada saa kejadian
Recovery: kontrol yang memulihkan kembalik kondisi operasi menjadi normal
Compensating: kontrol yang mengatasi kekurangan
  • Pendekatan kedua, digambarkan dalam NIST Special Publication Series, mengkategorikan kontrol berdasarkan dampak operasionalnya terhadap organisasi:
  1. Management: kontrol yang mencakup proses keamanan yang dirancang oleh strategic planner.
  2. Operational: kontrol yang berhubungan dengan fungsi operasional.
  3. Technical: kontrol yang mendukung bagian taktis dari suatu program keamanan.
  1. Security Architecture Models
  • Trusted Computing Based
  • The Trusted Computer System Evaluation Criteria (TCSEC) merupakan standar DoD yang mendefinisikan criteria untuk melakukan akses terhadap control access di dalam sistem komputer.
  • TCSEC mendefinisikan trusted computing base (TCB) sebagai kombinasi semua hardware, firmware, dan software yang bertanggung jawab untuk menegakkan security policy.
TCB merupakan mekanisme internal control dan administrasi yang efektif dari sistem  yang sedang diatur.
  • ITSEC
      • The Information System Evaluation Criteria (ITSEC) merupakan suatu set criteria internasional yang mengevaluasi sistem komputer. Hampir sama dengan TCSEC.
      • The ITSEC menilai produk pada skala E1 (level yang paling rendah) hingga E6 (level yang paling tinggi)
  • The Common Criteria (CC)
  • Kriteria umum untuk Information Technology Security Evaluation (biasanya disebut Common Criteria) merupakan internasional standar (ISO/IEC 15408) untuk sertifikasi keamanan komputer
  • The CC mencari kemungkinan pengakuan mutual yang terluas dari keamanan produk IT.
  • Proses CC menjamin bahwa spesifikasi, implementasi, dan evaluasi produk keamanan komputer dilakukan secara ketat dan sesuai standar.
  • Bell-LaPadula Confidentiality Model
  • The Bell-LaPadula (BLP) confidentiality model merupakan model mesin yang membantu untuk memastikan kerahasiaan sistem informasi melalui MACs, klasifikasi data, dan izin keamanan.
  • Clark-Wilson Integrity Model
    • The Clark-Wilson integrity model, yang dibangun berdasarkan prinsip-prinsip kontrol perubahan dibandingkan tingkat integritas, dirancang untuk lingkungan komersial.
    • Model ini menetapkan suatu sistem hubungan subjek-program-objek seperti subjek tidak dapat melakukan akses langsung terhadap objek.
  • Graham-Denning Access Control Model
    • The Graham-Denning access control model memiliki 3 bagian: objek, subjek dan hak.
    • Model ini menggambarkan 8 hak perlindungan primitive yang disebut commands.
  • Harrison-Ruzzo-Ullman Model
    • The Harrison-Ruzzo-Ullman (HRU) model mendefinisikan suatu metoe yang mengizinkan perubahan terhadap hak akses dan penghapusan subjek dan objek, suatu proses yang tidak terdapat di Bell-LaPadula model.
    • Dengan mengimplementasikan hak dan command serta membatasi command menjadi single operation, dimungkinkan untuk menentukan jika dan kapan subjek tertentu dapat memperoleh hak particular terhadap suatu objek.
  • Brewer-Nash Model (Chinese Wall)
    • The Brewer-Nash model umumnya dikenal sebagai Chinese wall yang didesain untuk mencegah konflik kepentingan antara 2 pihak.
    • The Brewer-Nash model memerlukan user untuk menyeleksi satu dari dua set data yang bertentangan, setelah itu mereka tidak dapat mengakses data yang bertentangan tersebut.
  • NIST Security Models
    • NIST special publication 800-12, Computer Security Handbook, merupakan referensi terbaik dan panduan untuk manajemen rutin information security.
    • NIST special publication 800-14, Generally Accepted Principles and Practices for Securing Information Technology Systems, menggambarkan praktek rekomendasi dan menyediakan informasi yang secara umum diterima oleh prinsip information security yang mana dapat mengarahkan security team di dalam pembangunan suatu security blueprint.
    • NIST special publication 800-18 Rev.1, Guide for Developing Security Plans for Federal Information Systems, menyediakan metode detail untuk assessing, designing, dan implementing controls, serta rencana aplikasi untuk berbagai macam ukuran.
    • NIST special publication 800-26, Security Self-Assessment Guide for Information Technology Systems, menggambarkan 17 area yang span managerial, operational, dan technical controls.
    • NIST special publication 800-30, Risk Management Guide for Information Technology Systems, menyediakan fondasi untuk pembangunan suatu efektif risk management program, yang terdiri dari definisi dan panduan praktikal yang diperlukan untuk menilai dan mengurangi resiko yang teridentifikasi dalam sistem IT.
  • Information Security Governance Framework
    • The Information Security Governance Framework merupakan model managerial disediakan oleh industry working group, www.CyberPartnership.org, dan merupakan hasil dari usaha pengembangan oleh National Cyber Security Summit Task Force.
    • Framework ini menetapkan bahwa setiap independent organizational unit harus mengembangkan, mendokumentasi, dan mengimplementasikan information security program


Perencanaan Kontigensi


Perencanaan Kontigensi adalah Perencanaan keseluruhan untuk kejadian tak terduga. Bagaimana suatu organisasi mempersiapkan, mendeteksi, dan bereaksi serta memulihkan peristiwa yang mengancam keamanan sumber daya informasi dan asset

Dengan 4 komponen utama, yaitu :
1. BIA – Bussiness Impact Analysis yaitu suatu kegiatan persiapan umum untuk manajemen resiko
2. IRP – Incident Response Planning berfokus pada tanggapan atau respon pertama kali saat menghadapi suatu peristiwa tidak terduga.
3. DRP – Disaster Recovery Planning berfokus pada pemulihan operasi pada area utama setelah bencana terjadi (pemulihan)
4. BCP – Business Continuity Planning memfasilitasi pembentukan operasi di sebuah situs alternative, rencana yang mengarah pada kelanjutan yang akan ditempuh setelah kejadian terjadi dengan mempertimbangkan dampaknya pada bisnis


Untuk merencanakan perencaan kontigensi yang mengacu pada komponen di dalamnya, maka dibentuklah 4 tim respon yaitu :
1. Tim Perencanaan Kontigensi
2. Tim Pemulihan insiden
3. Tim Pemulihan dari bencana
4. Tim Perencanaan kelanjutan bisnis

Untuk menjamin kelangsungan seluruh proses maka, perencanaan kontingensi harus:
-          Mengidentifikasi fungsi atau tujuan penting perusahaan (visi misi)
-          Mengidentifikasi sumber daya yang mendukung fungsi penting
-          Antisipasi pada potensi terjadinya bencana
-          Memilih strategi perencanaan kontigensi
-          Menerapkan strategi yang dipilih
-          Menguji dan merevisi rencana kontingensi